BALIKPAPAN – Selain pembangunan infrastruktur jalan, ketersediaan listrik bagi masyarakat pedalaman dan perbatasan menjadi perhatian serius Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud (Harum) bersama Wakil Gubernur H Seno Aji.
Saat resmi menjabat pada 20 Februari 2025, masih terdapat 109 desa di Kalimantan Timur yang belum teraliri listrik. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan, mengingat Indonesia telah 80 tahun merdeka, namun sebagian warga Kaltim—khususnya di wilayah perbatasan dan pedalaman—belum menikmati hak dasar berupa energi listrik.
“Listrik harus dinikmati seluruh rakyat Kaltim, baik di perkotaan, pedesaan, pedalaman, hingga wilayah perbatasan,” tegas Gubernur Harum dalam berbagai kesempatan.
36 Desa Terisolir Terang di Tahun Pertama
Komitmen menghadirkan keadilan energi itu langsung diwujudkan sejak tahun pertama kepemimpinan. Dalam waktu sekitar 10 bulan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berhasil mengintervensi 36 desa terjauh, tertinggal, dan terisolir yang sebelumnya gelap gulita tanpa listrik.
“Dalam tahun pertama, 36 desa berhasil kita aliri listrik,” ungkap Gubernur Harum.
Intervensi tersebut menjadi kado istimewa Hari Jadi ke-69 Kalimantan Timur, dengan desa-desa penerima tersebar di Mahakam Ulu, Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, dan Paser.
Hasilnya, sekitar 66 ribu kepala keluarga kini menikmati listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal.
73 Desa, 45 Ribu KK Masih Menunggu Listrik
Pemprov Kaltim belum berhenti. Saat ini, masih terdapat 73 desa dengan sekitar 45.000 KK yang belum teraliri listrik. Pemerintah daerah terus mengupayakan percepatan melalui penyediaan PLTS Komunal dan Alat Penyalur Daya Listrik (Apdal) per rumah tangga.
Tantangan utama terletak pada kondisi geografis ekstrem, desa-desa yang jauh dari jaringan PLN, serta belum adanya badan jalan menuju lokasi.
“PLTS ini sifatnya pra. Kita tetap perjuangkan agar PLN bisa masuk ke semua wilayah. Karena itu, badan jalan harus dipetakan sejak sekarang,” tegas Gubernur Harum.
Menurutnya, kehadiran listrik bukan sekadar penerangan, tetapi fondasi peningkatan kualitas hidup, ekonomi, sosial, dan pendidikan masyarakat secara berkelanjutan.
Cerita Warga Pedalaman
Kebahagiaan itu dirasakan warga Kampung Batoq Kelo, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu. Desa dengan 1.028 jiwa dan 339 KK tersebut kini menikmati listrik dari PLTS berkapasitas 60,8 kWp, baterai 576 kWh, dan inverter 50 kW.
“Kami sangat senang dan berterima kasih. Sekarang sudah bisa beli magic jar dan menonton televisi. Baru sekarang kami bisa menikmati TV,” ujar Antunius Legiu, Ketua Adat Desa Batoq Kelo.
Kebahagiaan serupa dirasakan warga Labuang Kallo, Kecamatan Tanjung Harapan, Kabupaten Paser. Melalui Program Jospol, Pemprov Kaltim menyalurkan 40 unit PLTS Apdal dengan total kapasitas 400 kWp dan baterai 1.000 kWh.
“Kami bangga dan berterima kasih karena pemerintah benar-benar memerhatikan kami yang hidup di tambak-tambak ini,” kata Muzni, warga Labuang Kallo.
“Kami undang Pak Gubernur datang ke sini. Sekarang kami bisa panen ikan macam-macam,” timpal Abdul Hapi, warga lainnya.
Di usia 69 tahun Kalimantan Timur, perjuangan menghadirkan listrik ke pelosok desa menjadi simbol bahwa pembangunan tidak lagi berpusat di kota, tetapi menyentuh hingga titik terjauh. / Pemprov






