BALIKPAPAN— Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan terus mendorong optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), sebagai sumber pembiayaan utama pembangunan daerah. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah penerapan elektronifikasi parkir, yang dinilai mampu meningkatkan pendapatan sekaligus menekan potensi kebocoran retribusi.
Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Kota Balikpapan, Agus Budi Prasetyo, menegaskan bahwa ketergantungan terhadap dana transfer dari pemerintah pusat tidak bisa lagi diandalkan sepenuhnya.
“Ketergantungan kita terhadap dana transfer pusat tidak bisa terlalu diandalkan. Karena itu, PAD menjadi pilihan utama untuk meningkatkan pendapatan sekaligus membiayai pembangunan di Kota Balikpapan,” ujarnya, saat melakukan Kick Off Elektronifikasi Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum, Kawasan Balikpapan Permai (BP), Selasa (6/1/2026).
Agus mengungkapkan, Pemerintah Kota Balikpapan sebenarnya telah lebih dulu memiliki fasilitas parkir elektronik yang diadakan beberapa tahun lalu, seperti di kawasan Gunung Sari, tepatnya di depan Rumah Sakit Restu Ibu. Namun, fasilitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
“Saya kira kegiatan hari ini sangat bagus. Mudah-mudahan kita bisa kembali mengaktifkan mesin parkir yang sudah ada, sehingga bisa bersinergi dengan dukungan Bank Indonesia dan perangkat yang dimiliki pemerintah kota,” jelasnya.
Menurutnya, pengaktifan kembali seluruh perangkat parkir elektronik menjadi langkah penting untuk meningkatkan PAD dari sektor parkir, sekaligus meminimalkan kebocoran retribusi yang selama ini kerap terjadi.
Lebih lanjut, Agus menekankan bahwa keberhasilan program elektronifikasi parkir tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem dan teknologi, tetapi juga oleh komitmen, integritas, serta kesiapan sumber daya manusia, baik di internal pemerintah maupun petugas parkir di lapangan. “Teknologi hanyalah alat. Yang menentukan keberhasilan adalah komitmen dan integritas SDM yang menjalankan,” tegasnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya sosialisasi yang intensif kepada masyarakat agar sistem baru ini dapat dipahami dan diterima dengan baik. Selain itu, keberlangsungan sistem juga harus dijaga agar tidak berhenti hanya pada seremoni peluncuran.
“Sering kali setelah launching, satu atau dua minggu kemudian sistemnya macet. Mudah-mudahan ini tidak terjadi. Kalau sistem bermasalah, kepercayaan masyarakat bisa menurun karena dianggap hanya sekadar launching tanpa pengawalan serius,” katanya.
Selain sosialisasi dan keandalan sistem, Agus juga menekankan pentingnya pelayanan yang ramah, tertib, dan profesional sebagai kunci keberhasilan transformasi layanan publik.
Ia optimistis, dengan kolaborasi dan semangat bersama seluruh pihak, elektronifikasi parkir akan menjadi contoh nyata transformasi digital pelayanan publik di Kota Balikpapan.
“Saya yakin, elektronifikasi parkir ini akan mendukung Balikpapan sebagai kota yang modern, inklusif, dan berkelanjutan,” tegasnya.(Niken/*)






