SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mencatat capaian signifikan dalam pemerataan akses digital. Hingga akhir 2025, layanan internet gratis telah menjangkau 802 desa, melampaui target awal sebanyak 716 desa.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal. Dia menyebut dari total rencana 841 desa, kini hanya tersisa 39 desa yang masih dalam tahap finalisasi.
“Kami ingin masyarakat di wilayah terpencil mendapatkan akses setara terhadap layanan publik, pendidikan, hingga peluang ekonomi digital,” ujar Faisal kepada awak media.
Keberhasilan program ini ditopang alokasi anggaran sebesar Rp9,2 miliar, dengan realisasi mencapai Rp8,8 miliar atau 95,56 persen sepanjang 2025.
Meski demikian, tantangan utama masih terletak pada ketersediaan listrik. Tercatat 125 desa belum menikmati listrik 24 jam, sehingga koneksi internet masih bergantung pada genset dan energi alternatif.
Memasuki 2026, Pemprov Kaltim akan menerapkan kebijakan lebih selektif seiring efisiensi anggaran. Fokus pengembangan internet gratis diarahkan ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), khususnya di Berau, Kutai Timur, Mahakam Ulu, Kutai Barat, dan Paser.
“Efisiensi dilakukan tanpa mengurangi esensi pelayanan bagi masyarakat di pelosok,” tegas Faisal.












